Realita/Fakta
PAPUA MERDEKA BERGEMA DI RUANG KKR DI LAPANGAN MANDALA JAYAPURA
Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA
1. Pendahuluan
Penulis mengajak para pembaca yang mulia dan terhormat, perlu melihat
kejujuran dan kepolosan pikiran dan hati orang asli Papua. Kejujuran dan kepolosan itu selalu berjalan telanjang. Orang asli Papua selalu menyampaikan sesuatu dengan jujur, terus terang, terhormat dan bermartabat.
Tepat sekali Prof. Paul Ekman dalam penelitiannya menempatkan orang Papua dengan Ras Melanesia adalah Manusia Terjujur. "Papua adalah The last honest person on earth atau Papua adalah manusia terjujur terakhir yang disisakan di muka bumi ini."
2. Gema Papua Merdeka di Ruang KKR
Kejujuran dan kepolosan itu terbukti pada 24 Agustus 2020 saat diselenggarakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan Tema: Papua Bermazmur. Pembicara Pendeta Gilbert Lumoindong.
Pendeta Gilbert sebelum penyampaikan Firman Tuhan mengajak umat Tuhan yang hadir dalam KKR di Stadion Sepakbola Mandala Jayapura dengan dua permintaan.
1. Saudara-saudara, kalau saya sampaikan Indonesia, dijawab dengan Merdeka.
2. Saudara-saudara, kalau saya sampaikan Papua, dijawab Luar Biasa.
Pendeta Gilbert memulai: INDONESIA.
Dijawab: NO. Lalu sebut PAPUA: dijawab MERDEKA.
Suara INDONESIA.... NO... dan PAPUA.... MERDEKA.... bergema tiga kali berturut-turut. Ini namanya kebenaran dan kejujuran berjalan telanjang di siang bolong.
Pendeta Gilbert Lumoindong harus sampaikan ini kepada penguasa Indonesia dan TNI-Polri tentang kebenaran dan kerinduan hati serta pergumulan rakyat dan bangsa West Papua ini.
Yang perlu disadari oleh para pembaca bahwa suara INDONESIA...NO.... PAPUA
...MERDEKA... yang bergema di ruang KKR di Mandala pada 24 Agustus 2020 itu tidak seperti yang biasanya direkayasa dan diatur oleh pemerintah Indonesia dan TNI-Polri selama ini. Suara umat Tuhan di ruang KKR itu murni dan mulia serta suci.
3. Gema Papua Merdeka di Kalangan Mahasiswa
Apa yang disampaikan dalam momentum KKR ini adalah kebenaran dan suara nurani rakyat dan bangsa West Papua hidup, bertumbuh dan berakar serta berbuah selama ini.
Pada 12 Agustus 2020, seorang teman berinisial FF setelah membaca artikel penulis tertanggal 2 Agustus 2020 yang bertopik: TIRANI PENGUASA INDONESIA YANG MENYEBABKAN TRAGEDI KEMANUSIAAN TERHADAP ORANG ASLI MELANESIA DI WEST PAPUA SELAMA 59 TAHUN HARUS DIAKHIRI DENGAN SOLUSI REFERENDUM YANG BERMARTABAT DIAWASI PBB" memberikan komentar:
"Memang betul sekali tulisan Bapak.
Saya sudah survei setiap mahasiswa OAP yang ada di Sulawesi dan Jawa dan pada umumnya mereka 99% ingin Papua merdeka. Kami sebagai warga negara Indonesia tetap netral dan tetap menghargai keinginan hati nurani OAP untuk merdeka. Semoga pemerintah Indonesia di berikan hati yang bijaksana untuk menanggapi keinginan hati nurani OAP sehingga masalah di Papua bisa terselesaikan dan tidak terjadi banyak korban lagi."
4. Gema Papua Merdeka di Auditorium Uncen
Dinamika dan semangat serta kerinduan hati rakyat dan bangsa West Papua yang tidak pernah padam itu tergambar jelas dengan pernyataan-pernyataan ini.
Adapun peristiwa yang hampir sama pada pelaksanaan Konferensi Perdamaian Papua pada 5-7 Juli 2011 di Auditorium Uncen Jayapura yang diselenggarakan Jaringan Damai Papua (JDP) dan dihadirkan para pembicara: Menkopolhukam Djoko Suyanto, Gubernur Papua, Kapolda Papua, Pangdam XVII Cenderawasih, Uskup Jayapura Dr. Leo Laba Ladjar, OFM, Dr. Toni Wanggai, Pdt. Dr. Benny Giay, dan saya, Dr. Socratez S.Yoman. Peristiwanya:
Pada giliran Pangdam XVII menyampaikan materi, dimulai dengan permintaan kepada para peserta Konferensi:
"Saudara-saudara, kalau saya sebut "Papua" saudara-saudara perserta menyahut dengan kata "Damai" tiga kali. Pembicara sebut Papua dan peserta jawab "Merdeka, Merdeka, Merdeka sampai tiga kali."
5. Gema Papua Merdeka di Manokwari dan Sorong
Pada 17-19 Oktober 2011, Pdt. Dr. Marthen Luther Wanma dan saya mengadakan pertemuan dengan rakyat Manokwari di gedung ibadah jemaat GKI Effata Manokwari untuk kami berdua memberikan penjelasan hasil pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia, Dr. Bambang Susilo Yudhoyono di Cikeas pada 16 Desember 2011. Sebelum kami berdua menyampaikan penjelasan, saya mengajukan pertanyaan.
"Saudara-saudara, siapa-siapa yang mau merdeka di atas Tanah leluhur orang-orang Melanesia ini?"
Responnya ialah semua rakyat yang hadir dan memenuhi gedung itu berdiri serentak dan angkat tangan dan mengatakan: "Merdeka....Merdeka...Merdeka." Yang tidak ikut berdiri pada waktu itu ada tiga orang PNS, salah satunya, Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari.
Pada 20 Januari 2012 pertemuan dengan rakyat di Sorong dengan misi yang sama. Pada pertemuan itu yang mewakili Danrem dari Korem 181/Praja Vira Tama(PVT) Sorong hadir dan Kapolres dari Kaporesta Sorong juga hadir.
Saya mengajukan pertanyaan yang sama, yaitu, "Saudara-saudara, siapa-siapa yang mau merdeka di atas Tanah leluhur orang-orang Melanesia ini?"
Responnya ialah semua rakyat yang hadir dan memenuhi gedung itu berdiri serentak dan angkat tangan dan mengatakan: "Merdeka....Merdeka...Merdeka." Yang tidak ikut berdiri pada waktu itu yang mewakili Danrem dan Kapolres.
Waktu rekayasa dan manipulasi di Tanah Papua sudah berlalu. Kesempatan untuk berpura-pura sudah tidak ada tempat di bumi Papua. Ruang-ruang untuk bersandiwara yang bertopengkan orang Kristen, bertameng nama Yesus Kristus tidak ada tempat di hati Allah dan di hati orang asli Papua.
Kekerasan dan kekejaman Negara tidak bisa disembunyikan dengan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Tuhan, Gereja dan Kristen tidak bisa dimanipulasi dan digunakan sebagai tameng untuk menyembunyikan penderitaan, tetesan air mata dan cucuran darah rakyat Papua yang dibantai oleh penguasa Indonesia atas nama dan demi kepentingan keamanan nasional. Singkat kata, pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara tidak bisa dibungkus dengan KKR.
Hati nurani dan harkat dan martabat orang asli Papua tidak bisa ditaklukkan dengan cara berpura-pura, munafik dan omong kosong serta janji-janji palsu.
6. Gema Papua Merdeka di Istana Negara Republik Indonesia
Kejujuran dan kepolosan rakyat dan bangsa West Papua juga terlihat dari pernyataan Tim 100. Delegasi Tim 100 mewakili rakyat dan bangsa West Papua pertemuan dengan Prof. Dr. B.J. Habibie di Istana Negara Republik Indonesia pada 26 Februari 1999.
"....dengan jujur kami menyatakan kepada Presiden Republik Indonesia, bahwa tidak ada alternatif lain untuk merundingkan atau mempertimbangkan keinginan Pemerintah Indonesia guna membangun Papua dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka pada hari ini, Jumat, 26 Februari 1999, kepada Presiden Republik Indonesia, kami bangsa Papua Barat menyatakan bahwa:
Pertama, kami bangsa Papua Barat berkehendak keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan untuk merdeka dan berdaulat penuh di antara bangsa-bangsa lain di bumi."
Kedua, segera membentuk pemerintahan peralihan di Papua Barat dibawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara demokratis, damai dan bertanggungjawab, selambat-lambatnya bulan Maret tahun 1999.
Ketiga, Jika tidak tercapai penyelesaian terhadap pernyataan politik ini pada butir kesatu dan kedua , maka;
(1) segera diadakan perundingan Internasional antara Pemerintah Republik Indonesia, Bangsa Papua Barat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB);
(2) Kami bangsa Papua Barat menyatakan, tidak ikut serta dalam pemilihan Umum Republik Indonesia tahun 1999.
Kejujuran dan kerterbukaan orang asli Papua juga terlihat dalam Musyawarah Besar (MUBES) 23-26 Februari 2000.
Dari 7 butir keputusan peserta MUBES, pada butir 4 dinyatakan:
"Bahwa kami bangsa Papua Barat setelah berintegrasi dengan Indonesia melalui pelaksanaan pepera yang tidak adil dan penuh kecurangan, dan setelah 36 tahun berada dalam Negara Republik Indonesia, bangsa Papua Barat mengalami perlakuan-perlakuan keji dan tidak manusiawi: Pelanggaran berat HAM, pembunuhan, pemerkosaan, pembodohan, pemiskinan, ketidakadilan sosial dan hukum yang mengarah pada etnik dan kultur genocide bangsa Papua Barat,maka kami atas dasar hal-hal tersebut di atas menyatakan kehendak kami untuk memilih merdeka-memisahkan diri dari negara Republik Indonesia kembali ke status kami semula sebagai bangsa dan negara Papua, 1 Desember 1961."
7. Gema Papua Merdeka pada tahun 1969
Pemerintah Indonesia dan TNI-Polri harus evaluasi menyeluruh tentang semua kebijakan selama 51 tahun sejak 1969 sampai di era Otonomi Khusus 2020. Karena suara 95% orang asli Papua yang berkeinginan Merdeka pada Pepera 1969 itu belum pernah surut.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengakui kepada anggota Tim PBB, Ortiz Sanz, secara tertutup (rahasia):
“bahwa 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan Papua”
(Sumber: Summarey of Jack W. Lydman’s report, July 18, 1969, in NAA, Extracts given to author by Anthony Bamain).
Duta Besar RI, Sudjarwo Tjondronegoro mengakui:
"Banyak orang Papua kemungkinan tidak setuju tinggal dengan Indonesia."
(Sumber: UNGA Official Records MM.ex 1, paragraf 126).
Dr. Fernando Ortiz Sanz melaporkan kepada Sidang Umum PBB pada 1969:
"Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka."
(Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723, paragraph 243, p.47).
Piter Sirandan saksi sejarah yang dikirim oleh Pemerintah Indonesia untuk memenangkan Pepera 1969, pada awal Desember 2009, setelah membaca buku penulis: "Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (2007), memberikan kesaksian:
"Pak Yoman, setelah saya membaca buku-buku pak Yoman, saya sangat menyesal. Saya dulu telah menjadi Yudas karena saya ditugaskan oleh Negara untuk mengawasi orang-orang Asli Papua. Saya menangis dan mencucurkan air mata karena saya mengkhianati orang-orang Asli Papua. Saya ditugaskan oleh negara untuk memenangkan Pepera 1969 dan mempertahankan Irian Barat."
Saya tiba di Jayapura, 1 Desember 1964. Saya menyaksian ABRI menembak mati Elly Uyok di Bioskop Rex (sekarang: Kantor Pos Jayapura). Saya ikut angkat mayat itu dan darahnya tampias ke baju saya.
Kami orang Indonesia benar-benar menipu orang Papua yang mau berkata benar waktu itu. Kami benar-benar menipu orang Papua. Kami benar-benar menindas orang Papua. Kami benar-benar merugikan masa depan orang Papua. Kami benar-benar tidak menghargai hati nurani orang Papua untuk benar-benar mau merdeka.
Kami mengetahui bahwa pada waktu pelaksanaan Pepera 1969 itu, orang-orang Papua benar-benar mau merdeka. Saya mengetahui bahwa 100% orang Papua mau merdeka. Impian dan harapan mereka, benar-benar kami hancurkan.
Saya yang memegang uang banyak waktu itu dan membayar kepada orang-orang yang mencabut tulisan: "One Man One Vote" yang akan dilewati Ortiz Sanz dan digantikan dengan tanam "Bendera Merah Putih.
Pada waktu itu, saya mendapat hadiah uang sebesar Rp 7.000.000; ( tujuh juta) dari pemerintah Indonesia karena saya dianggap berhasil menipu orang Papua dan memenangkan Pepera 1969. Karena itu, sekarang saya sangat mendukung perjuangan orang Papua untuk merdeka."
(Sumber: Yoman, Integrasi Belum Selesai, 2010, hal. 91-92; Yoman: Gereja dan Politik di Papua Barat, 2011, hal. 21; Yoman: Saya Bukan Bangsa Budak, 2012, hal.177).
8. Kesimpulan
Kesimpulan tulisan ini ialah pada 1969 keinginan OAP yang berkeinginan merdeka 95% dan selama 51 tahun sejak 1969 sampai dalam era Otonomi Khusus 2020 sekarang OAP yang berkeinginan merdeka telah meningkat 99%.
Dr. Bernarda Meteray dalam bukunya yang berjudul: "Nasionalisme Ganda Orang Papua" dengan tepat menggambarkan kegagalan peng-indonesia-an orang Asli Papua.
"Yang penting untuk dicermati adalah penggunaan bahasa Melayu di Papua. Sejak kehadiran Gereja dan Pemerintah Belanda di Papua, bahasa Melayu bukanlah sarana atau bibit yang tepat untuk membangkitkan keindonesiaan. Bahasa Melayu digunakan hanya sebagai media komunikasi dan bukan sebagai sarana membangkitkan keindonesiaan pada diri orang Papua yang tergolong ras Melanesia. Sebaliknya, penggunaan bahasa Melayu justru menyatukan orang Papua dari berbagai kelompok etnis dan memperkuat jati diri mereka sebagai orang Papua. Masyarakat Papua diberbagai tempat dapat memahami kondisi yang berlangsung di Papua melalui bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda atau bahasa lokal, baik dalam percakapan sehari-hari maupun media massa berupa radio, surat kabar, dan majalah." (2012: 270).
Jalan penyelesaian yang lebih bermatabat dan berprospek keadilan dan kedamaian ialahPemerintah RI-ULMWP duduk setara dan berunding tanpa syarat dimediasi pihak ketiga yang netral seperti contoh Pemerintah RI menjadikan GAM Aceh sebagai mitra dialog damai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki.
Ita Wakhu Purom, Kamis, 27 Agustus 2020
Penulis
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Alliansi Baptis Dunia (BWA).