Kamis, 13 Agustus 2020

Lapangan Terbang Wenput Hasil Swadaya Masyarakat.


Terbentuknya Lapangan Terbang Wenput  Hasil Usaha Swadaya Masyarakat.

Oleh : Pontius Omoldoman.

A. PENDAHULUAN.

Bandara Lokal Wenput Kabupaten Yahukimo,Perbatasan distrik Kosarek dan Distrik Ubalihi. Dalam proses pengerjaan lapangan ini di kerjakan hanya swadaya masyarakat dengan semua peralatan tradisional. Nama daerah ini dulunya dipakai sebagai nama Wenkamna, Wenkamna sendiri memiliki nama daerah yang di namai oleh leluhur dan moyangnya dengan chiri khas penyebutan nama benda atau hewan yang ada dalam hutan itu, dalam konteks ini yang mencakup tentang pelindung alam atau hutan wenkamna, karena daerah itu dikuasai hutan besar dan dalam hutan ada penjaga alam, alam disitu juga lebih mendengar manusia, antar penginjil dan kepala suku dan masyarakat tertentu yang sudah membangun persahabatan antara penjaga alam dengan manusia, ketika binatang peliharaan hilang atau tidak sempat pulangke rumahnya, di minta tolong sama masyarakat yang tinggal lama di samping hutan itu. 

Dari nama daerah di atas yang dulunya disebut wenkamna, Pembukaan pembongkaran dan penebangan pohon di lokasi terbentuknya lapangan ini, sebelumnya tidak berpikir bahwa daerah ini akan ada lapangan terbang dengan nama dari wenkamna menjadi wenput, terkait nama ini dalam pandangan penulis bahwa perlu ada tinjau ulang, pertama dari wenkamna menujuh wenput ialah moderen, dan setelah ini perlu ada kecocokan nama lapangan dengan siapa pelaku atau pertama mengeluarkan kata buka lapangan di wenput. 

Seingat penulis untuk kita menebang pohon dan membuka lapangan terbang ialah (Alm. Mantri Amos Wisabal, Bapak Yoas Suhuniap dan Alm.Arius Suhuniap) Bapak Yoas suhuniap membawa mulai tebang pohon pada hari ini, Jika penulis salah mohon di koreksi. Hari minggu mengeluarkan kapak untuk menebang pohon sebagai bentuk respon kata bapak Alm. Amos tadi, setelah pada hari seninnya masyarakat semua kompak menebang pohon.

Untuk mulai memasuki proses penebangan pohon dan membuka lokasi badan lapangan terbang, Masyarakat kampung pemohon, desa silkom mulai musyawarah dan bentuk kesamaan persepsi dan doa bersama sebagai bentuk permisi kepada penjaga alam. Dengan landasan doa itu masyarakat mulai bongkar menebang pohon, dalam proses pengukuran badan lapangan ini, setelah mengukur dari satu arah, arah barat wenput ternyata tidak dapat karena adanya gunug yang menghambat pintu masuk pesawat.

Terus menebang mengukur  pohon, layak dapat akses masuk pesawat dari udara, Masyarakat tetapkan badan lapangan terbang pintu masuk pesawat dari arah udara. Penulis ingat persis bahwa proses terbentuknya lapngan ini penuh dengan kerugian nyawa serta seluruh kekuatan alam. Setelah menebang pohon memperjelas arah pintu masuk pesawat dan badan lapangan terbang, masyarakat kembali musyawarah untuk melakuan syukuran dan doa bersama untuk melangkah lanjut pada tahap yang berikut yakni, membakar seluruh potongan kayu dan menggusur tanah, untuk melangkah proses itu masyarakat bakar batu dan mengundang seluruh tetangga kampung, masyarakat masak babi sekitar 5/10 ekor dan masak di kali sablahik sebagai bentuk meminta ijin kepada penghuni alam dengan menumpahkan darah babi dan meminta dukungan kepada tetangga kampung, Allah,Alam. 

Setelah meresmikan pembukaan pembukaan lapangan terbang, mobilisasi masapun mulai kedatangan, mulai dari kampung Walani arah udara,Kampung telam dan wisomi arah barat, Siregasi dan Hombuka arah timur,Masyarakat mulai masuk bongkar tanah sambil membakar potongan kayu besar dan kecil, dalam proses ini masyarakat kerja hanya dengan menggunakan sekop dan lingkis hanya dengan bahan tradisional, akhirnya Alm. Mantri A.Wisabal dana mendroup geropak,sekop,lingkis dengan sarung yang isuh tanah dan membuang, dalam proses pengerjaan ini sebagai simbol pahlawan jari tangan daripada bapak mantri amos jari tangan tengah terputus dapat tindis dengan kayu besar.

Setelah mencermati dinamika perubahan dan tuntutan zaman pada era global dan digital, perlu adanya sarana yang mampu menjawab kebutuhan mendasar masyarakat pribumi, karena kebanyakan masyarakat ke wamena untuk belanja setiap kebutuhan dengan jalan kaki menempuh perjalanan dengan 3 sampai 4 hari jalan, melewati kali ternama dengan menyeberangi jempatan yang penuh darurat, ganung gunung ternama bahkan melewati pelantara yang penuh dengan hujan es yang  menggeramkan manusia, bahkan ada cerita terunik ada juga yang gugur di tengah pelantara.

Dari sekian panjangnya cerita di atas ini, cerita ini juga yang di jalani oleh tokoh dan misionis pendidikan dan membuka lapangan terbang wenkamna,di waktu itu bapak almarhum lapangan terbang yang memliki banyak cerita dan memilki kisah dan kesan yang baik dan buruk, Lapangan swadaya masyarakat ini dirancang dan dibentuk oleh salah seorang senior pendidkan dari kampung siregasi induknya, tinggal berdesa di desa silkom kampung pemohon.

Lapangan ini di rancang oleh (Alm) Mantri Amos Wisabal, dengan latar belakang profesi sebagai seorang pelayan kesehatan dan bapak juga sebagai salah satu senior orang pertama menjadi sukses dalam bidang ilmu kesehatan, beliau selesai di Keperawatan  wamena, selesai studi beliau melamar sekitar tahun 199/2000 di wamena, beliau dapat di terima dan setelah itu ikut mutasi ke Kab. pemekaran kabupaten yahukimo, setelah mekarkan kabupaten yahukimo tahun 2003.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Email :

PRIMA MENOLAK OTSUS JILID II. SOLUSI DEWAN RAKYAT PAPUA (DRP).

*Tolak Evaluasi Otsus Jilid II* *Dewan Rakyat Papua (DRP) Solusi Untuk Tanah Papua*   Evaluasi terhadap Undang-undang N0.21 Tahun 2001 tenta...