Kamis, 30 Juli 2020

DALAM KOTA MASIH ADA KAMPUNG, DALAM KAMPUNG MASIH ADA ADAT.

"Melihat dunia perkembangan secara nyata, bukan secara nyata tetapi selingkup. Dalam perspektif Antropologi, Dalam kota masih ada desa dan belum menjadi kota juga karena mereka dalam desa atau kampung itu masih hidup di dalam garis ekologi sosial, dalam konteks ini faktor lingkungan ialah kekuatan untuk mempertahankan adat dan warisan adat moyang, kemudian kenapa dalam kota masih ada kampung, Pertanyaan ini kaitannya dengan adat dan budaya, walaupun dalam dalam kota masih ada kampung karena kampung itu masih mempertahankan adat mereka, dalam hal ini sebagai contoh siatem mata pencaharian kampung itu sendiri, sudah pasti beda, bedanya ialah cara mencari makan di hutan atau di danau, hal ini kaitan dengan ekologi lingkungan, penyakit sosial, dampaknya yang mereka tahu dari dalam kota masih ada kampung itu. 

Kemudian dalam kota masih ada kampung karena masyarakat merasa nyaman hidup dan sistem mata pencahariannya di dukung oleh ciri khas alamiah dan dapat di dukung juga oleh makanan kas asli adat, sekalipun dunia modern ni dibantu oleh makanan ilmiah tetapi makanan lokal masih menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat yang hidup dalam kota tetapi di kampung. 
Tahukah kamu apa itu Etnografi?
Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa.
Pada saat kuliah strata satu di Jurusan Antropologi, materi terkait dasar-dasar  Etnografi menjadi menjadi mata kuliah wajib. Mulai dari Etnografi Papua, Etnografi Indonesia dan Etnografi Oceania.
Materi tentang Etnografi Melanesia di fokuskan pada jenjang strata dua.

Memahami suatu komunitas masyarakat merupakan suatu upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Di tengah-tengah upaya tersebutlah, Etnografi hadir.

Etnografi telah menjadi alat yang fundamental untuk memahami masyarakat kita sendiri dan masyarakat multikultural di seluruh dunia.

Melihat judul dari tulisan kakak Ngurah, sejenis deskripsi Etnografi. Kiblat Antropologi UGM yang lebih menekankan pada ruang lingkup sastra, membuat setiap tulisan dari kakak Ngurah selalu menarik untuk di baca.

Konsep ini sebagai pengantar, ada next. 

Senin, 20 Juli 2020

OTSUS GAGAL MEMANUSIAKAN MANUSIA PAPUA.

Wakil Ketua I DPR Papua, DR Yunus Wonda

 Menyampaikan bahwa  beberapa waktu ke depan akan dilakukan evaluasi dan penyapaian aspirasi terkait bagaimana nasib Otsus Jilid II. Pemerintah pusat diminta tidak lagi menerapkan cara – cara lama untuk menjaring aspirasi.

 Jangan  lagi mengundang para tokoh maupun pejabat ke Jakarta kemudian mengatasnamakan rakyat Papua dan menyampaikan aspirasi. 

Ini diyakini tidak akan pernah mewakili apa yang menjadi keluhan masyarakat akar rumput dan hanya memperjuangkan aspirasi kelompok dan pribadi.

Jadi cara – cara ini jangan lagi dilakukan, biarkan aspirasi itu muncul dari bawah, apakah ia meminta pembangunan, meminta uang atau meminta merdeka sekalipun biarkan saja. 

Kami yang akan fasilitasi dan bukan pemerintah pusat.

 Kata Yunus Wonda, Apalagi dikatakan bahwa proses penjaringan aspirasi ini nantinya akan dimotori oleh Majelis Rakyat Papua sedangkan DPR Papua hanya mengawal. 

Ini sesuai dengan bunyi undang – undang Otsus pasal 77 kata Wonda.

Ia tak bisa pemerintah pusat mengambil keputusan sesuai sudut pandang pemerintah pusat mengingat nantinya dipastikan justru menjadi polemik bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi penolakan. 

“Pakai sudut pandang kami di Papua. 

Ada masyarakat akar rumput yang harus didengar mengingat dalam UU Otsus pasal 77 itu sangat jelas bahwa dalam mengevaluasi pelaksanaan Otsus yang berhak melakukan adalah rakyat Papua melalui Majelis Rakyat Papua,” tambahnya.

Yunus mengulas kembali bahwa tahun 2017 lalu Pemprov Papua mengajukan Otsus plus namun ketika itu kementerian menganggap ini tidak penting akhirnya kami kembali dan kini menarik draf Otsus tersebut. 
Nah jangan lagi ini terulang karena hanya akan memperpanjang kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah pusat.

 “MRP yang akan memulai dengan musyawarah besar.

 Mereka yang akan jadi ujung tombak. MRP yang mengakomodir semua aspirasi dan siapa saja boleh berbicara.
Tidak bisa hanya mengundang gubernur, DPR saja tapi biarkan proses ini dimulai dari Papua lewat MRP. Mubes ini sudah pernah dilakukan namun tidak terlalu digubris juga jadi kali ini kami mengingatkan jauh – jauh hari,” pungkasnya.

Oleh: 
Dr. YUNUS WONDA 
Wakil Ketua I DPR
Prov Papua 
 #Save_Akar_Rumput.

#Tolak_Otsus_Jilid_II.
"OTONOMI KHUSUS JILID II UNTUK SIAPA.?
____________________________________
"Memperjuangkan otonomi khusus jilid 2 ialah murni merancang kejahatan  kemanusiaan yang lebih pada menghabisi jumlah orang papua asli dari yang tersisah saat ini. 
Orang asli papua 90% menolak untuk adanya otsus jilat 2 atau jilid 2 segala yang saat ini di dorong oleh kebanyakan kelompok yang merasa tidak mau kehilangan kedudukan dan kekayaan yang dimiliki melalui jendela otsus itu sendiri. 
Silahkan anda merancang dan mendorong untuk memperpanjang masa kedudukan otsus di tanah papua, dengan label hadirnya otsus di tanah papua dengan solusi memanusiakan manusia papua dari kaca mata jakarta tetapi justru fakta membuktikan bahwa kaca mata jakarta salah terjemahkan nama otsus yang kian lama di papua selama 15-20 tahun lebih di tanah papua tidak bukti yang signifikan. Hanya lembaga cultrual atau lembaga MRP. walaupun jakarta merasa bahwa papua sudah sejahtera melalui otsus khusus tetapi kesejahteraan yang sebarluaskan itu harus jelas di bidang mana. Pendidikan gratis sekalipun masih membayar uang SPP dengan 2_5jutah. Mau bilang kesehatan justru biaya kesehatan lebih mahal dr pendidikan. Mau bilang pembangunan, pembangunana dalam bentuk fisik atau manual. Contoh kasus (UNCEN)Sebagai tim perumus draf Otsus saja tidak pernah ada renovasi dan penambahan gedung. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran otsus di papua tidak 100% hanya 80%.

Sesampai di provinsi papua, perincian dana otsus itu dibagikan segala #%. Sungguh ngeri.. Sesungguhnya otsus hadir di papua ialah dalang segala bentuk kejahatan kemanusiaan secara sistematis dan terstruktur, ternyata tidak mau mengakui kesalahannya, akan tetapi kesalahan itu dipandang sebagai kebenaran dan masih terus memaksakan kebenaran rakyat untuk mengiakan kehendaknya jakarta. 
Mulai bangkitnya segala macam bentuk kelompok dan elit yang memiliki tujuan masif mulai duduk di kafe, hotel, kantor sedang bersuara dan mencari solusi atas kegelisaan atas dasar tidak mau rugi dan kehilangan segalanya yang ada dari hasil otsus itu. 
"Ini dugaan saya"Ketika rakyat terus membangun prinsip dan kesadaran adanya sekian tahun lamanya di papua yang tidak berpihak sama sekali. Yang akan terjadi ialah penculikan atau menghadirkan oknum dan kelompok yang ada saat ini menjadi kaki tangan jakarta untuk merunding sepihak, kemudian mengesahkan atas klaim kedaulatan rakyat papua. (Gila). Atas dasar apa klaim rakyat untuk merunding otsus jilid II. Kemudian bisa juga terjadi terulang seperti pepera tahun 69 dengan todongan dan di intimidasi paksa untuk mencoplos otsus jilid II. Ingat mau kelompok dan oknum siapapun anda yang harus masih mengangkat dan menyuarakan Otsus butuh di konstruksi kembali. Orang-orang yang menjuarakan ini perlu pengampunan dan pengakuan dosa, jangan memperjuangkan cintamu bukanlah dia lagi di jalan. (Stop).
Sekian tahun otsus operasi di tanah papua sama sekali tidak menguntungkan rakyat tanah leluhur. Rakyat masih hidup bertahan sistem mata pencaharian lokal. Tidak hanya soal makan dan minum hari ini, tidak pernah ada tim otsua yang mengambil sampel di pedalaman papua, tujuannya satu menobservasi tingkat penyebaran kesejahteraan rakyat dari dana otsus itu. Terjadi dana otsus bukan untuk rakyat biasa, tetapi dana otsus itu untuk rakyat luar biasa. 
Dalam opini saya ini ialah mosi penolakan dan ketidakpercayaan sejatinya atas hadirnya otsus di tanah papua yang ibaratnya pisau bermata 2,,Otsus ialah simbol kejahatan yang di tawarkan oleh jakarta untuk papua tetap dalam satu payung sehingga mengiakan waktu itu tahun 2001 dengan menutup bungkus keinginan rakyat papua. Ternyata otsus memutahkan mata dan hati untuk menuntut kebenaran masa lalu melalui perahu yang diberikan jakarta, ternyata tidak sepenub hati, yang ada faktanya ialah gula dan salah resep obat rakyat papua. 
"Hentikan mengklaim diri sebagai manusia yang kompeten dan katakan utusan rakyat tanah. 
Silahkan anda klaim memperjuangkan memperpanjangkan otsus jilid II tetapi rakyat papua tidak tahu anda ialah pahlawan kesiangan. 
"Stop menamakan diri sebagai bahwa, bahwa lawan yang mencari kotak makan, bukan kotak mengisi aspirasi. 

"Kesimpulan hak kedaulatan ada di tangan rakyat papua. 
"Omoldoman.

Rabu, 15 Juli 2020

MEMPERJUANGKAN OTSUS JILID II UNTUK SIAPA.

otsus ada dimana dan untuk siapa.??
"Memperjuangkan otonomi khusus jilid 2 ialah murni merancang kejahatan  kemanusiaan yang lebih pada menghabisi jumlah orang papua asli dari yang tersisah saat ini. 
Orang asli papua 90% menolak untuk adanya otsus jilat 2 atau jilid 2 segala yang saat ini di dorong oleh kebanyakan kelompok yang merasa tidak mau kehilangan kedudukan dan kekayaan yang dimiliki melalui jendela otsus itu sendiri. 
Silahkan anda merancang dan mendorong untuk memperpanjang masa kedudukan otsus di tanah papua, dengan label hadirnya otsus di tanah papua dengan solusi memanusiakan manusia papua dari kaca mata jakarta tetapi justru fakta membuktikan bahwa kaca mata jakarta salah terjemahkan nama otsus yang kian lama di papua selama 15-20 tahun lebih di tanah papua tidak bukti yang signifikan. Hanya lembaga cultrual atau lembaga MRP. walaupun jakarta merasa bahwa papua sudah sejahtera melalui otsus khusus tetapi kesejahteraan yang sebarluaskan itu harus jelas di bidang mana. Pendidikan gratis sekalipun masih membayar uang SPP dengan 2_5jutah. Mau bilang kesehatan justru biaya kesehatan lebih mahal dr pendidikan. Mau bilang pembangunan, pembangunana dalam bentuk fisik atau manual. Contoh kasus (UNCEN)Sebagai tim perumus draf Otsus saja tidak pernah ada renovasi dan penambahan gedung. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran otsus di papua tidak 100% hanya 80%.

Sesampai di provinsi papua, perincian dana otsus itu dibagikan segala #%. Sungguh ngeri.. Sesungguhnya otsus hadir di papua ialah dalang segala bentuk kejahatan kemanusiaan secara sistematis dan terstruktur, ternyata tidak mau mengakui kesalahannya, akan tetapi kesalahan itu dipandang sebagai kebenaran dan masih terus memaksakan kebenaran rakyat untuk mengiakan kehendaknya jakarta. 
Mulai bangkitnya segala macam bentuk kelompok dan elit yang memiliki tujuan masif mulai duduk di kafe, hotel, kantor sedang bersuara dan mencari solusi atas kegelisaan atas dasar tidak mau rugi dan kehilangan segalanya yang ada dari hasil otsus itu. 
"Ini dugaan saya"Ketika rakyat terus membangun prinsip dan kesadaran adanya sekian tahun lamanya di papua yang tidak berpihak sama sekali. Yang akan terjadi ialah penculikan atau menghadirkan oknum dan kelompok yang ada saat ini menjadi kaki tangan jakarta untuk merunding sepihak, kemudian mengesahkan atas klaim kedaulatan rakyat papua. (Gila). Atas dasar apa klaim rakyat untuk merunding otsus jilid II. Kemudian bisa juga terjadi terulang seperti pepera tahun 69 dengan todongan dan di intimidasi paksa untuk mencoplos otsus jilid II. Ingat mau kelompok dan oknum siapapun anda yang harus masih mengangkat dan menyuarakan Otsus butuh di konstruksi kembali. Orang-orang yang menjuarakan ini perlu pengampunan dan pengakuan dosa, jangan memperjuangkan cintamu bukanlah dia lagi di jalan. (Stop).
Sekian tahun otsus operasi di tanah papua sama sekali tidak menguntungkan rakyat tanah leluhur. Rakyat masih hidup bertahan sistem mata pencaharian lokal. Tidak hanya soal makan dan minum hari ini, tidak pernah ada tim otsua yang mengambil sampel di pedalaman papua, tujuannya satu menobservasi tingkat penyebaran kesejahteraan rakyat dari dana otsus itu. Terjadi dana otsus bukan untuk rakyat biasa, tetapi dana otsus itu untuk rakyat luar biasa. 
Dalam opini saya ini ialah mosi penolakan dan ketidakpercayaan sejatinya atas hadirnya otsus di tanah papua yang ibaratnya pisau bermata 2,,Otsus ialah simbol kejahatan yang di tawarkan oleh jakarta untuk papua tetap dalam satu payung sehingga mengiakan waktu itu tahun 2001 dengan menutup bungkus keinginan rakyat papua. Ternyata otsus memutahkan mata dan hati untuk menuntut kebenaran masa lalu melalui perahu yang diberikan jakarta, ternyata tidak sepenub hati, yang ada faktanya ialah gula dan salah resep obat rakyat papua. 
"Hentikan mengklaim diri sebagai manusia yang kompeten dan katakan utusan rakyat tanah. 
Silahkan anda klaim memperjuangkan memperpanjangkan otsus jilid II tetapi rakyat papua tidak tahu anda ialah pahlawan kesiangan. 
"Stop menamakan diri sebagai bahwa, bahwa lawan yang mencari kotak makan, bukan kotak mengisi aspirasi. 

"Kesimpulan hak kedaulatan ada di tangan rakyat papua. 
"Quynews. 

Jumat, 08 Juni 2018

DIGITALISASI MANUSIA.

APA YANG DI MAKSUD DENGAN DIGITALISASI MANUSIA.

A. Pengantar.
Digitalisa manusia pada dasarnya ialah manusia yang normal secara budaya dan alkitab, kini atau kata kedinian zaman now sedang dikuasai oleh alat2 eltronik atau media sosial lainnya
Semakin maju dan kembang dalam dunia sosial,budaya dan politik semakin tidak sadar jati diri dan nasionalisme sedang diekploitasi melalui sebuah cara simple misalnya Facebook dll. Semakin kita fokus posting berita dan fhot semakin banyak orang2 irih dan suka. Barangkali fakta ini menjadi sebuah bahan cerita yang perlu diperhatikan dalam kelompok generasi mudah yang nantinya menjadi pemimpin di atas negerinya sendiri, papaua.
Wisata dan Budaya

Dalam dunia digitalisasi saat ini, banyak manusia yang gadaikan diri mereka dengan segala macam bentuk ciri dengan daya tarik modernisasi, ini salah satu cara yang tidak bermoral, tujuannya memarginalisasi budaya warisan moyang secara warisan. dampak dari digitalisasi ialah bukan soal salah dan benarnya akan tetapi merujut pada integeritas budaya itu sendiri.

Minggu, 01 April 2018

Deskripsi Moderniasi Kebudayaan pada masa moyang .



Menurut Ilmu Antropologi
Dalam ilmu antropologi, yang telah menjadikan berbagai cara hidup manusia dengan berbagai macam sistem tindakan tadi sebagai objek penelitian dan analisanya, aspek belajar itu merupakan aspek yang sangat penting. Itulah sebabnya dalam hal memberi pembatasan terhadap konsep "kebudayaan" atau culture itu, artinya dalam hal memberikan definisi terhadap konsep "kebudayaan", ilmu antropologi seringkali sangat berbeda dengan berbagai ilmu lain.
Juga apabila dibandingkan dengan arti yang biasanya diberikan kepada konsep itu dalam bahasa sehari-hari, yaitu arti yang terbatas kepada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusasteraan dan filsafat, definisi ilmu antropologi jauh lebih luas sifat dan ruang lingkupnya.

Menurut ilmu antropologi, "kebudayaan" adalah : keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kata "kebudayaan" dan "culture". Kata "kebudayaan" berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti "budi" atau "akal". Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan : "hal-hal yang bersangkutan dengan akal". Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti "daya dari budy". Karena itu mereka membedakan "budaya" dari "kebudayaan". Demikianlah "budaya" adalah "daya dari budi" yang merupakan cipta, karsa, dan rasa itu. Dalam istilah "antropologi-budaya" perbedaan itu ditiadakan. Kata "Budaya" disini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari "kebudayaan" dengan arti yang sama.

Minggu, 21 Januari 2018

FENOENA MODERNISASI KEBUDAYAAN MASYAKARAT PAPUA (SUKU MEK)DISTRIK KOSAREK KABUPATEN YAHUKIMO.

Tidak menyangkah bahwa kebudayaa pribumi ialah ciri khas keunikan di mata dunia, hal ini dapat dipresentasekan oleh pada ahli antrpologi sepasifik melalui pelestarian adat tradisional. namun kala ini tradisi kehidupan masyarakat di tengah kebudayaan yang terunik semakin punah atas fenomena eksploitasi atau promosi kebudayaan pribumi.

PRIMA MENOLAK OTSUS JILID II. SOLUSI DEWAN RAKYAT PAPUA (DRP).

*Tolak Evaluasi Otsus Jilid II* *Dewan Rakyat Papua (DRP) Solusi Untuk Tanah Papua*   Evaluasi terhadap Undang-undang N0.21 Tahun 2001 tenta...